SEJARAH BAHASA INDONESIA
Perkembangan
bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia didorong oleh tiga factor :
karakteristik bahasa Melayu, geografis, dan politis religi. Bahasa
Melayu Riau berkembang menjadi bahasa interetnik di Bandar-bandar
perdagangan di daerah pesisir timur Pulau Sumatra, pesisir utara Pulau
Jawa, pesisir barat dan selatan Pulau Kalimantan. Dari bahasa
interetnik, bahasa Melayu Riau berkembang menjadi bahasa lingua franca
yang bukan hanya digunakan oleh kelompok etnik pribumi di Nusantara
yang sangat banyak jumlahnya, tetapi juga digunakan oleh etnik asing,
antara lain Portugis, Belanda, Arab, India, dan Inggris dalam transaksi
dagang.
Untuk
kepentingan penjajahan, Belanda memerlukan tenaga-tenaga pribui yang
memiliki keterampilan dan pendidikan dasar yang memadai. Karena itu
didirikan sekolah-sekolah dan didalamnya digunakan Bahasa melayu.
Disamping itu, untuk menyebarkan pemahaman agama yang paling efektif
dapat mencapai lapisan masyarakat pribumi, para pemimpin agama
menggunakan media bahasa Melayu.
Untuk mendorong kepentingan penjajahannya, pada tahun 1865 bahasa Melayu yang secara de facto sudah menjadi lingua franca ditingkatkan statusnya
menjadi bahasa resmi kedua , yitu setelah bahasa Belanda yang merupakan
bahasa resmi pertama oleh pemerintah Belanda. peningkatan ini merupakan
konsekuensi logis dari kondisi social politik waktu itu.
Tahun 1901, Charles Van Ophuisen, setelah meneliti bhasa Melayu selama lima tahun, menerbitkan bukunya yang sangat berarti bagi perkembangan bahasa Melayu, yaitu kitab Logat Melayouyang berisi antara lain system penulisan dengan huruf Latin. Dengan demikian, bahasa Melayu yang sebelumnya hanya menggunakan
system ejaan huruf jawi (Arab) yang silabik mendapatkan system
penulisannya yang lebih sesuai, yaitu system fonetik. peristiwa ini
merupakan langkah pertama pemoderenan bahasa Melayu.
Bahasa
melayu yang berkembang dan tersebar luas dengan sangat pesat, pada
permulaan abad ke 20 mendapatkan fungsi baru, yaitu sebagai bahasa
pergerakan nasional. Fungsi baru itu diberikan oleh para pemimpin rakyat
yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Pada waktu itu, Nasionalisme
Indonesia diidentikkan dengan pemakaian bahasa Melayu. pengakuan
sebagai bahasa pergerakan nasional bukan hanya datang dari para pemimpin
pergerakan, tetapi juga dari pemerintah Belanda.
Perkembangan Sastra
Sudah
sejak abad 19, ada hasil-hasil sastra berbahasa Melayu yang tidak
ditulis oleh orang-orang yang berasal dari kepulauan Riau atau Sumatra.
juga bahasa yang dipergunakannya akan sulit disebut sebagai bahasa
Melayu yang murni. Bahasa Melayu yang dipergunakan oleh para pengarang
itu bukan bahasa Melayu tinggi melainkan bahasa Melayu Rendah.
Umumnya
karya-karya sastra kuno itu mengisahkan kehidupan anta-branta,
kerajaan-kerajaan atas angin dengan para rajaputera yang gagah dan putri-putri
cantik jelita. Kepada pembacanya memberikan nasihat secara langsung
ataupun tidak langsung, antara lain yang berkenaan dengan moral, agama,
ilmu dan lain-lain. Demikian juga bentuknya, umumnya sudah mempunyai
bentuk yang tradisional. Kebanyakan berbentuk puisi. Pendeknya bukan
bahasa sehari-hari. Bahasa prosa cenderung dianggap tidak bernilai
sastra.
Dengan
berkembangnya pers mulai pertengahan abad ke-19, maka mulai digunakan
bahasa prosa yang praktis untuk menyampaikan peristiwa hidup
sehari-hari. Ditambah oleh pengaruh bacaan Eropa melalui Belanda, maka
mulailah orang mempergunakan bahasa prosa untuk bercerita. Mungkin pada
awalnya mereka tidak begitu sadar untuk bersastra, tetapi lama kelamaan
jenis cerita ini berkembang pesat setelah banyak peminatnya.
Roman
merupakan bentuk sastra Eropa yang tumbuh subur sekitar abad 19. bentuk
ini ternyata digemari pula di Indonesia. pengaruh Eropa itu bukan hanya
tampak dalam prosa, melainkan juga dalam puisi. pada sekitar tahun
1920, Muhammad Yamin, Sanusi Pane, Muhammad Hatta, Roestam Efendi dan
lain-lain banyak menulis sonata, yaitu bentuk puisi yang berasal dari
Italia dan digemari di Inggris dan Belanda.
Barulah
pada tahun 1920 terbit pada Balai Pustaka roman yang ditulis dalam
bahasa Melayu Tinggi, yaitu karangan Merari sirengar berjudul Azab dan Sengsara. Dua tahun kemudian terbit roman yang sekarang telah menjadi klasik, yakni Sitti Nurbaya buah tangan Marah Rusli. M. Kasim menulis Muda Teruna dan Nur Sutan iskandar dengan mempergunakan nama Nursinah Iskandar menerbitkan Apa Dayaku Karena Aku Perempuan (keduanya terbit pada tahun 1922)
Sementara
itu perkembangan penulisan roman di luar Balai Pustaka yang
mempergunakan bahasa Melayu Pasar pun tidak terhenti. Kalau roman-roman
Baalai Pustaka digemari oleh para pembaca yang hidup dalam lingkungan
pegawai negeri dan “sekolahan” maka umumnya roman-roman Melayu Pasar
digemari dalam lingkungan para pedagang, para buruh yang tidak pernah
mengecap pendidikan sekolah dengan pengajaran bahasa melayu yang baik.
Pada
masa pujangga baru jurang perbedaan ini sedikit demi sedikit
diperkecil. S. Takdir Alisjahbana pernah mengemukakan tulisan pada masa
itu (1934) yang menyatakan secara tegas bahwa bahasa Melayu rendah atau
Melayu Tionghoa pun tak kalah baiknya dengan bahasa melayu Riau. Ucapan
itu menyejukkan, apalagi karena dikatakan oleh pejuang bahasa Indonesia
sehingga timbul reaksi yang keras dari pihak para pecinta bahasa Melay
tinggi yang murni.
Tetapi
ucapan Sutan Takdir itu pun barulah merupakan cita-cita sahajah. Bahasa
Pujangga Baru sangat keras menunjukkan pengaruh Melayu Riau, termasuk
pula bahasa yang dipergunakan oleh Sutan Takdir sendiri. Baru pada masa
sesudah perang, dengan munculnya Chairil Anwar, perbedaan kedua macam
bahasa itu kian menciut. Pada saat sekarang tidak bisa dibedakan lagi
antara bahasa Melayu tinggi dan bahasa Merlayu Pasar. Keduanya, telah
menjadi bahasa Indonesia. Perbedaan bahasa percakapan (lisan) dan bahasa
buku sudah boleh dibilang tak ada lagi.
Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia
Beberapa
orang penelaah sastra Indonesia telah mencoba membuat periodisasi
sejarah sastra Indonesia. Meskipun diantara para ahli dan sarjana itu
ada persamaan-persamaan yang mecolok dalam membagi periodisasi sastra
Indonesia, namun kalau diteliti lebih lanjut maka akan tampak bahwa
masing-masing periodisasi itu menunjukkan perbedaan-perbedaan yang
mencolok juga, baik istilah maupun konsepsinya.
Dalam buku Ikhtisar ini akan diikuti periodisasi sejarah sastra Indonesia sebagai berikut.
I. Masa Kelahiran (kurang lebih 1900-1945) yang dapat dibagi lagi menjadi beberapa periode yaitu :
1. Periode awal 1933
2. periode 1933-1942
3. periode 1942-1945
II. Masa Perkembangan (1945 sampai sekarang) yang lebih lanjut dapat pula dibagi menjadi beberapa periode sebagai berikut :
1. periode 1945-1953
2. Periode 1953-1961
3. periode 1961 sampai sekarang