Minggu, 18 Maret 2018

Periodesasi/Sejarah Bahasa Indonesia

SEJARAH BAHASA INDONESIA

            Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia didorong oleh tiga factor : karakteristik bahasa Melayu, geografis, dan politis religi. Bahasa Melayu Riau berkembang menjadi bahasa interetnik di Bandar-bandar perdagangan di daerah pesisir timur Pulau Sumatra, pesisir utara Pulau Jawa, pesisir barat dan selatan Pulau Kalimantan. Dari bahasa interetnik, bahasa Melayu Riau berkembang menjadi bahasa lingua franca yang bukan hanya digunakan oleh kelompok etnik pribumi di Nusantara yang sangat banyak jumlahnya, tetapi juga digunakan oleh etnik asing, antara lain Portugis, Belanda, Arab, India, dan Inggris dalam transaksi dagang.
            Untuk kepentingan penjajahan, Belanda memerlukan tenaga-tenaga pribui yang memiliki keterampilan dan pendidikan dasar yang memadai. Karena itu didirikan sekolah-sekolah dan didalamnya digunakan Bahasa melayu. Disamping itu, untuk menyebarkan pemahaman agama yang paling efektif dapat mencapai lapisan masyarakat pribumi, para pemimpin agama menggunakan media bahasa Melayu.
            Untuk mendorong kepentingan penjajahannya, pada tahun 1865 bahasa Melayu yang secara de facto sudah menjadi lingua franca ditingkatkan  statusnya menjadi bahasa resmi kedua , yitu setelah bahasa Belanda yang merupakan bahasa resmi pertama oleh pemerintah Belanda. peningkatan ini merupakan konsekuensi logis dari kondisi social politik waktu itu.
            Tahun 1901, Charles Van  Ophuisen, setelah meneliti bhasa Melayu selama lima tahun, menerbitkan  bukunya yang sangat berarti bagi perkembangan bahasa Melayu, yaitu kitab Logat Melayouyang berisi antara lain  system penulisan  dengan huruf Latin. Dengan demikian, bahasa Melayu yang sebelumnya hanya  menggunakan system ejaan huruf jawi (Arab) yang silabik mendapatkan system penulisannya yang lebih sesuai, yaitu system fonetik. peristiwa ini merupakan langkah pertama pemoderenan bahasa Melayu.
            Bahasa melayu yang berkembang dan tersebar luas dengan sangat pesat, pada permulaan abad ke 20 mendapatkan fungsi baru, yaitu sebagai bahasa pergerakan nasional. Fungsi baru itu diberikan oleh para pemimpin rakyat yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Pada waktu itu, Nasionalisme Indonesia diidentikkan dengan pemakaian bahasa Melayu. pengakuan sebagai bahasa pergerakan nasional bukan hanya datang dari para pemimpin pergerakan, tetapi juga dari pemerintah Belanda.

Perkembangan Sastra
            Sudah sejak abad 19, ada hasil-hasil sastra berbahasa Melayu yang tidak ditulis oleh orang-orang yang berasal dari kepulauan Riau atau Sumatra. juga bahasa yang dipergunakannya akan sulit disebut sebagai bahasa Melayu yang murni. Bahasa Melayu yang dipergunakan oleh para pengarang itu bukan bahasa Melayu tinggi melainkan bahasa Melayu Rendah.
            Umumnya karya-karya sastra kuno itu mengisahkan kehidupan anta-branta, kerajaan-kerajaan atas angin dengan para rajaputera yang gagah dan  putri-putri cantik jelita. Kepada pembacanya memberikan nasihat secara langsung ataupun tidak langsung, antara lain yang berkenaan dengan moral, agama, ilmu dan lain-lain. Demikian juga bentuknya, umumnya sudah mempunyai bentuk yang tradisional. Kebanyakan berbentuk puisi. Pendeknya bukan bahasa sehari-hari. Bahasa prosa cenderung dianggap tidak bernilai sastra.
            Dengan berkembangnya pers mulai pertengahan abad ke-19, maka mulai digunakan bahasa prosa yang praktis untuk menyampaikan peristiwa hidup sehari-hari. Ditambah oleh pengaruh bacaan Eropa melalui Belanda, maka mulailah orang mempergunakan bahasa prosa untuk bercerita. Mungkin pada awalnya mereka tidak begitu sadar untuk bersastra, tetapi lama kelamaan jenis cerita ini berkembang pesat setelah banyak peminatnya.
            Roman merupakan bentuk sastra Eropa yang tumbuh subur sekitar abad 19. bentuk ini ternyata digemari pula di Indonesia. pengaruh Eropa itu bukan hanya tampak dalam prosa, melainkan juga dalam puisi. pada sekitar tahun 1920, Muhammad Yamin, Sanusi Pane, Muhammad Hatta, Roestam Efendi dan lain-lain banyak menulis sonata, yaitu bentuk puisi yang berasal dari Italia dan digemari di Inggris dan Belanda.
            Barulah pada tahun 1920 terbit pada Balai Pustaka roman yang ditulis dalam bahasa Melayu Tinggi, yaitu karangan Merari sirengar berjudul Azab  dan Sengsara. Dua tahun kemudian terbit roman yang sekarang telah menjadi klasik, yakni Sitti Nurbaya buah tangan Marah Rusli. M. Kasim menulis Muda Teruna dan Nur Sutan iskandar dengan mempergunakan nama Nursinah Iskandar menerbitkan Apa Dayaku Karena Aku Perempuan (keduanya terbit pada tahun 1922)
            Sementara itu perkembangan penulisan roman di luar Balai Pustaka yang mempergunakan bahasa Melayu Pasar pun tidak terhenti. Kalau roman-roman Baalai Pustaka digemari oleh para pembaca yang hidup dalam lingkungan pegawai negeri dan “sekolahan” maka umumnya roman-roman Melayu Pasar digemari dalam lingkungan para pedagang, para buruh yang tidak pernah mengecap pendidikan sekolah dengan pengajaran bahasa melayu yang baik.
            Pada masa pujangga baru jurang perbedaan ini sedikit demi sedikit diperkecil. S. Takdir Alisjahbana pernah mengemukakan tulisan pada masa itu (1934) yang menyatakan secara tegas bahwa bahasa Melayu rendah atau Melayu Tionghoa pun tak kalah baiknya dengan bahasa melayu Riau. Ucapan itu menyejukkan, apalagi karena dikatakan oleh pejuang bahasa Indonesia sehingga timbul reaksi yang keras dari pihak para pecinta bahasa Melay tinggi yang murni.
            Tetapi ucapan Sutan Takdir itu pun barulah merupakan cita-cita sahajah. Bahasa Pujangga Baru sangat keras menunjukkan pengaruh Melayu Riau, termasuk pula bahasa yang dipergunakan oleh Sutan Takdir sendiri. Baru pada masa sesudah perang, dengan munculnya Chairil Anwar, perbedaan kedua macam bahasa itu kian menciut. Pada saat sekarang tidak bisa dibedakan lagi antara bahasa Melayu tinggi dan bahasa Merlayu Pasar. Keduanya, telah menjadi bahasa Indonesia. Perbedaan bahasa percakapan (lisan) dan bahasa buku sudah boleh dibilang tak ada lagi. 

Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia
            Beberapa orang penelaah sastra Indonesia telah mencoba membuat periodisasi sejarah sastra Indonesia. Meskipun diantara para ahli dan sarjana itu ada persamaan-persamaan yang mecolok dalam membagi periodisasi sastra Indonesia, namun kalau diteliti lebih lanjut maka akan tampak bahwa masing-masing periodisasi itu menunjukkan perbedaan-perbedaan yang mencolok juga, baik istilah  maupun konsepsinya.
            Dalam buku Ikhtisar ini akan diikuti periodisasi sejarah sastra Indonesia sebagai berikut. 
I.                   Masa Kelahiran (kurang lebih 1900-1945) yang dapat dibagi lagi menjadi beberapa periode yaitu :
1.      Periode awal 1933
2.      periode 1933-1942
3.      periode 1942-1945

II.                Masa Perkembangan (1945 sampai sekarang) yang lebih lanjut dapat pula dibagi menjadi beberapa periode sebagai berikut :
1.      periode 1945-1953
2.      Periode 1953-1961
3.      periode 1961 sampai sekarang

TUGAS NON ILMIAH B.INDONESIA


BANGKIT

Cerpen Karangan: Alfred Pandie

Pandanganku pada langit tua. Cahaya bintang berkelap kelip mulai hilang oleh kesunyian malam. Aku berjalan menyusuri lorong malam sepi nan gelap. Cahaya bulan malam ini begitu indahnya. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Konflik dengan orang tua karena tidak lulus sekolah. Hari ulang tahun  yang gagal di rayakan. Dan hadiah sepeda motor yang terpaksa di kubur dalam-dalam karena tak lulus, belum lagi si adik yang menyebalkan. Teman-teman yang konvoi merayakan kemenangan, sedang aku?

Hari-hari yang keras kisah cinta yang pedas. Angin malam berhembus menebarkan senyumku walau sakit dalam hati mulai mengiris. Sesekali aku menghapus air mataku yang jatuh tanpa permisi. Sakit memang putus cinta.

Rasanya beberapa saat lalu, aku masih bisa mendengar kata-kata terakhirnya yang tergiang-ngiang merobek otak ku.

“sudah sana… Kejarlah keinginanmu itu!, kamu kira aku tak laku, jadi begini sajakah caramu, oke aku ikuti.. Semoga kamu tidak menyesal menghianati cinta suci ini.” beberapa kata yang sempat masuk ke hpku, di ikuti telpon yang sengaja ku matikan karena kesal atau muak.
 Aku termenung di pinggir jalan, memegang kepalaku yang sakit.

“Selamat malam..? Sorii mba kayanya lagi sedih banget boleh aku minta duitnya..”
Seorang pemabuk dengan botol bir di tangan kiri dengan jalan yang tak beraturan,

Ia mengeluarkan sebilah pisau lipat dan mengancamku. Aku hanya terdiam tak  berkata, membuatnya sedikit binggung. Aku meraih tas di sampingku dan menyerahkan padanya.

“ini ambil semua.. Aku tak butuh semua ini. Aku hanya ingin mati…!” 

Aku melemparkan tas ke hadapannya yang di sambut dengan senyum picik dan iapun menghilang di gelapnya malam.
Aku bangkit berdiri dan berjalan menyusuri malam, berdiri menatap air suangai yang mengalir airnya deras.Di sini di atas jembatan tua ini. Angin sepoi-sepoi menyerang tubuh ku. Aku berdiri menatap langit yang bertabur bintang, rasanya tak ada yang penting bagiku sekarang. Perlahan-lahan aku berjalan menaiki  jembatan dan berdiri bebas. Menutup mata dan tinggal beberpa senti lagi aku akan terjatuh. Aku perlahan mengangkat kaki kananku dan?

Tiba-tiba sosok pemabuk yang menodong pisau padaku ku tadi, menarik baju ku dan menampar pipiku kuat, keras sekali tamparannya.

“ini uang dan tas mu…!! Aku tak butuh..! Aku lebih baik mati kelaparan dari pada melihat wanita lemah sepertimu” ia menarik ku turun dan melemparkan tasku diatas tanah

Dan ia berlalu pergi. Aku bangkit dan meraih tas ku kembali menyusuri tangga turun. Sosok yang tadi, pria mabok yang ternyata seumuran denganku, di sekujur tubuhnya penuh tato dan tubuhnya kurus sekali. Ia berdiri termenung pada tangga  jalan. Sesekali menatap langit dan menghapus air matanya.

“boleh aku berdiri disini bersamamu? Aku menyapanya tapi ia hanya terdiam
membisu”.
Aku berdiri di sampingnya menunggu sampai kapan ia akan berdiri pergi dari sini.

“kenapa kamu menamparku?”
“Kenapa kamu menolongku?”

Aku sudah tak berarti lagi. Pria yang aku cintai bertahun-tahun mencapakanku dengan tuduhan yang tak jelas, aku memulai pembicaraan”.

Dengan sesekali menghapus air mata akibat dari gejolak di hatiku. “apa kamu akan terdiam atau aku telah mengusikmu?”. Aku melihatnya dan ia balik menatapku tajam. Aroma alkohol dari mulutnya jelas tercium saat ia bicara “maafkan aku..?

Sungguh aku minta maaf, menurut ku kamu terlalu lemah, masalah apapun jangan  berhenti untuk bangkit, bukankah setiap hari kita merasakan hal yang sama? Ia  berkata sembari mengulurkan tangannya yang ternyata cuma 2 jari yang utuh, Aku mulai merinding karena sedikit takut. Sehingga aku tak membalas uluran tangannya.

“kaget ya mbak?. Jari ku yang lain di potong oleh preman karena persaingan. Hidup di jalan seperti ku ini, hawanya sangat dingin dan penuh nyali besar, bahkan untuk tertidur saja itu sulit. Harus rela kedinginan, Di gigit nyamuk dan tempat ku tertidur hanya di emperan toko, Dan kalau sudah penuh oleh gembel lain, terpaksa aku harus mencari tempat lain yang menurutku layak. Maaf bila aku mengambil tas mu. Aku  butuh makan, sudah 3 hari aku tidak makan, sisa makanan di tong sampah sudah membusuk karena hujan kemarin, Biasanya aku mencari secerca kenikmatan disana  yang masih bisa layak ku telan, rasa lapar tak akan bisa membuatmu jijik. Setiap hari saat membuka mata yang anda ingat hanya perut dan perut.”

Ia terdiam dan mengalihkan pandanganya luas menembus angkasa, langit malam ini. Aku hanya terdiam terpaku dengan mulut terbuka, betapa aku tak percaya setengah mati. Bagaimana mungkin seandainya sekarang aku berada di posisi ini? Aku yang terlahir dari keluar sederhana namun penuh kehangatan, uang bukan masalah, aku hanya meminta tanpa pernah tahu bagaimana orang tuaku mendapatkannya, semuanya cukup, tapi ternyata itu bukan kebahagian, itu nafsu sesaat, Aku memang memiliki segalanya tapi tidak dengan cinta, selalu ada yang kurang setiap hari. Tanpa kebersaman kita mati. Terutama pentingnya mensyukuri apa yang ada. Aku menarik tangan dan menjabat tangannya kuat-kuat yang tinggal dua jari meski sedikit risih karena aneh menurutku. Aku memberinya sedikit pelukan hangat. Ia tersenyum memamerkan mulutnya yang bau alkohol dan bau wc umum. Aku menyerahkan tas ku padanya.

“ambil lah.. Aku tak mengenalmu tapi kamu memberi ku banyak alasan hari ini, kenapa aku harus kuat menghadapi hidupku sekarang dan nanti, bukankah hidup harus tetap di jalani. Aku sadar masih punya segalanya, bodoh sekali cuma karena cinta semangatku hilang, belum tentu ia jodohku, belum tentu ia juga memikirkan hal yang sama, rasa sakitku”.

Aku berlari menuruni tangga meninggalkan ia sendiri yang masih terdiam menatap kembali langit yang menampakan bintang-bintang kecil yang berkelip dengan jenaka, seakan hari ini tak akan berlalu.

Ketika aku akan menapaki jalan. Kekasihku sedang berdiri di depanku dengan  bunga mawar banyak sekali di tangannya, sementara di belakangnya orang tua dan adikku yang berdiri di samping mobil, kami saling terdiam untuk beberapa saat ia memulai.

“maafkan aku sayang, ternyata aku yang salah menilaimu, makasih ya?,

Sudah membuat hidupku lebih berharga karena ini. Ia menyerahkan bunga dengan sebuah diary usang punyaku, yang entah dari mana ia mendapatkannya. Tapi disinilah aku bisa menulis menitikan setiap masalah, rasa banggaku atas kekasihku ini. Aku memeluk erat tubuhnya lama kami terdiam di iringi tangis dan canda menghiasi malam, sementara kedua orang tuaku tersenyum senang. 
Aku mengajak kekasihku menaiki tangga untuk mengenalkan pada orang yang mengajarkanku banyak hal. Khususnya arti bersyukur.Kami menapaki jalan tangga dan melirik sekeliling dan mencari namun sosok itu hilang tak berbekas? Kami turun dan kami pergi ke mall bersama orang tua dan adik ku untuk merayakan ulang tahunku.
Walaupun tetap aku tak dapat sepeda motor karena tak lulus tapi bukan berarti kehangatan ini harus berakhir.

Unsur Intrinsik cerpen BANGKIT



1.Tema: Jangan mudah putus asa / kehidupan

2.Latar:
-Waktu : Malam hari
Bukti : Cahaya bulan malam ini begitu indahnya.
-Tempat : di pinggir jalan dan di atas jembatan
Bukti : Aku termenung di pinggir jalan, memegang kepalaku yang sakit. Di sini di atas jembatan tua ini angin sepoi-sepoi menyerang tubuh ku‟.
-Suasana : Sunyi sepi
Bukti : „Aku berjalan menyusuri lorong malam sepi nan gelap.‟

3. Alur : Maju
-Karena jalan cerita dijelaskan secara runtut mulai dari pengenalan latar dan masalah sampai ke konflik dan di akhir cerita terdapat penyelesaian konflik.

4.Penokohan :
- Aku : mudah putus asa, kurang bersyukur dan selalu mengeluh
 Bukti :Kenapa kamu menolongku? Aku sudah tak berarti lagi.
-    Aku hanya meminta tanpa pernah tahu bagaimana orang tuaku mendapatkannya.
-    Pria pemabuk : pemabuk dan kuat menghadapi beratnya hidup
Bukti : seorang pemabuk dengan botol bir di tangan kiri dengan jalan yang tak beraturan
Hidup di jalan seperti ku ini, hawanya sangat dingin dan penuh nyali besar, bahkan untuk tertidur saja itu sulit.

5.Sudut pandang : orang pertama sebagai pelaku utama.
Bukti : Cerpen bangkit menggunakan kata ganti “aku” sebagai tokoh utama dan mengisahkan tentang dirinya sendiri.

6. Nilai :
- Nilai Moral : Saat tokoh aku menyadari selama ini hanya meminta tanpa pernah tahu bagaimana orang tuanya mendapatkannya.Kita seharusnya bersyukur dengan apa yang telah kita miliki tidak hanya menuntut sesuatu karna diluar sana masih  banyak orang yang kekurangan.
- Nilai Perjuangan = Pria pemabuk berjuang bertahan hidup di jalanan yang keras. Di kehidupan nyata banyak orang yang melakukan apapun untuk berjung hidup. Kita harus berjuang mempertahankan hidup di dunia yang keras ini.
- Nilai Kepedulian = Saat Pria pemabuk menyelamatkan tokoh aku yang akan terjun dari jembatan. Banyak orang yang membutuhakan bantuan kita saat menghadapi masalah kita seharusnya membantu mereka tidak membiarkannya.

7.Amanat :
a. Jangan mudah putus asa dalam menjalani kerasnya hidup.
b. Bersyukurlah atas apa yang telah dimiliki.
c. Hidup tidaklah sempurna kadang manusia diatas dan kadang dibawah.
d. Jangan lari dari permasalahan.
e. Kegagalan adalah awal dari keberhasilan.
f. Masalah apapun jangan berhenti untuk bangkit.

SUMBER https://www.academia.edu/9487093/4_Contoh_Cerpen_Beserta_Unsur_Intrinsik_dan_Ekstrinsiknya